Sunday, 5 April 2020

Cukup Aku Ada

Aku cukup jadi ada tanpa perlu masuk daftar berharga. Cukup menyukai tanpa menuntut untuk selalu bersedia di sisi. Sebatas yang menikmati apa yang tersaji oleh punggung yang bahkan kau tak sadar siapa.

Karena bagiku, kamu sudah masuk sebagai yang tak akan membagi tempat dengan yang lain. Kamu pentahta apa yang kusebut manis untuk netra, meski doaku bukan isinya perihal semoga kamu di sebelah. Tetapi dibaikkan kamu untuk tetap bisa menyaji senyum indah.

Itu cukup, sangat cukup. Rasanya menginginkan lebih membuat aku menjadi serakah. Sebab jika menyuka aku akan mencemburui siapa saja yang menurutku bisa merampasmu. Tak apa jika lenganmu tak bisa ku rengkuh, atau kebiasaanmu tak bisa kuhafal; begini saja.

Jangan sadari adaku, atau jangan peka atas debar dalam bilik kiri yang tau diri. Sebab sanggup belum bisa aku iyakan untuk ngilu yang tandang sesudahnya. Aku belum siap menanggung denyut yang mengiramakan sendu, atau diejek bingkai kaca sebab yang berkaca-kaca bukan hanya ia yang dihempas hujan semalam namun juga manik mata.

[01:00 pagi, Bumi tempatku—menuai gerimis]

Jombang-5 April 2020

Sunday, 5 January 2020

RINDU DALAM SUNYI


Bagaimana mampu kutatap redup cahaya
sedang kilau bintang tak jua datang
dalam dekap harap tiada tepian
rindu itu telah terpasung dalam telaga impian

Yakinku padamu tiada kesudahan
Tiada letih kau sapa sukma tanpa paksa
Tentang sebuah asa pada titik masa
Di situlah arti kita yang sesungguhnya

Lelah langkah dalam titian
Berdarah sudah menuai lara
Namun tetap tiada surut hati menuju
Kepada rindu begitulah katamu

Tuesday, 31 December 2019

Terima Kasih karena Kau pernah Hadir

Tidak ada kepergian yang tidak melukai, pun meski diri sendiri yang memutuskan pergi. Tidak ada yang pernah siap pada kehilangan, meski sudah jauh-jauh hari menyiapkan diri. Tidak pernah mudah usaha untuk melepaskan, meski tahu tak ada lagi yang bisa diperjuangkan.

Sebab semua tentang kita istimewa, tak ada perihal yang biasa-biasa saja, waktu-waktu bersamamu selalu menyenangkan, percakapan denganmu tak pernah membosankan. Kau; segala yang membuatku aman dan nyaman.

Meski pada akhirnya semua hanya menjadi bagian dari masa lalu yang panjang; aku tak menyesalinya.

Terima kasih untuk semua yang pernah ada, untuk pelukan-pelukan yang menghapus sedih, genggaman yang menenangkan, suka duka di setiap peristiwa, semua tawa pun air mata. Terima kasih, karena kau pernah hadir di antaranya.

Semoga kita tak memilih untuk saling melukai setelah tak lagi saling mengasihi. Tak saling membenci meski berhenti mencintai.

Terima kasih sudah menjadi bagian dari kisah yang menyenangkan dalam ingatan. Kau akan ada di sana; selamanya.

___


Untuk kursi kosong di sampingku, semoga suatu ketika kelak kau mau mengisinya kembali. Kita bertukar cerita tentang kebahagiaan-kebahagian atau apa saja yang bisa membuat tertawa--meski tak lagi bersama.

Sampai memeluk kembali, aku pasti merindukanmu.


31 Desember 2019
An 

Potret Kita


Malam ini aku membuka galery telepon genggamku dan menemukan beberapa senyummu di sana.
Senyum yang pernah membuatku ikut tersenyum tiap kali memandangnya.

Malam ini aku membuka cerita tentang kita, cerita yang menyisakan banyak tanya, cerita yang usai tanpa penjelasan, cerita yang masih ingin terus kutuliskan namun kau memilih berhenti menjadi pemeran.

Pada tiap fotomu yang masih kusimpan, kutemukan bahagiaku yang turut serta terekam kamera, sepertinya itu tawa terbaik yang pernah aku miliki selama beberapa waktu ini--bersyukur aku bisa mengenangnya dalam potret yang ada kau di dalamnya.

Aku rindu tentang kita, kita yang pernah begitu dekat dan saling mendekap.
Aku rindu ucapan selamat pagi darimu, aku rindu pada pelukan hangatmu, aku rindu pada bahumu yang begitu lapang untuk bersandar, aku rindu kau mencuri kecup bibirku dan mendapati pipiku memerah karenanya.

Jika kau membaca ini dan ada yang menghangat di dadamu, mungkin itu cinta yang selama ini kau anggap sudah tak ada.

Malam ini, aku ingin menghabiskan waktu dengan memandangi potret kita, lalu menuliskan lagi cerita; tentang kita yang pernah sangat bahagia.

Aku rindu kita; semoga kamu juga.


Pojok kamar, 30 Desember 2019

Sunday, 11 August 2019

Kau dan Segala yang Tak Usai


Cerita-cerita yang dulu nampak lucu, kini tak lagi bisa membuat kita tertawa. Hal-lal  yang dulu nampak sederhana, kini menjadi begitu rumit dan asing.

Tak ada lagi percakapan tentang pagi yang memerlukan pelukan, juga malam-malam penuh doa. Tak ada lagi perdebatan tentang siapa yang paling dan lebih sering merindu, juga tentang siapa yang lebih sibuk setiap waktu.

Kau dan aku seperti tengah mengambil jarak, memberi jeda pada arti "kita" entah siapa yang kelak akan menyerah, berbalik arah dan memeluk lebih dulu. Jika boleh memilih, biar aku saja.

Biar aku yang memahami bahwa jalan kembali ternyata sulit ditempuh, hingga kelak tak mudah memutuskan pergi.
Biar aku yang memahami bila pelukmu begitu berarti, hingga kelak tak mudah kulepaskan.

Kau dan aku seperti dua orang kelelahan, saling sembunyi dan menunggu ditemukan, entah siapa yang kelak akan menyerah, keluar dari keinginan membohongi diri sendiri. Jika boleh memilih, biar aku saja.

Biar aku yang belajar menemukanmu, hingga kelak tak membiarkan (si)apapun mencurimu.
Biar aku yang belajar mencari, hingga kelak mampu mempertahankan apapun yang kumiliki.

Untuk amarahmu, untuk kecewamu, untuk apapun yang masih kau rasakan, boleh kutukar dengan pelukan?

Aku rindu kau dan segala yang tak usai di kepalaku.

Monday, 13 February 2017

AJARI AKU TUK MELUPAKANMU

Kuingin membenci dirimu
Tapi rinduku makin menggebu..
Kuingin hapus nama namamu
Tapi ku harus bersama dirimu..
Ingin kublokir hatiku, namun bayang senyuman itu connect di benakku...

Sunday, 12 February 2017

Bait-bait Kerinduan



Masih terasa hangat pelukanmu.
Aroma sedap tubuhmu meneriakkan kisi kisi kerinduanku di saat dalam kesendirian.
Sungguh diriku tak mampu meninggalkan dirimu dalam kesepian.
Rasanya ingin kupeluk erat selalu dirimu dalam kebersamaan.

Kaulah separuh hatiku.
Di saat mentari tersenyum di pagi hari, aku terlalu ingat senyum manismu.
Di kala siang hari mulai terdengar adzan, kau selalu mengingatkan aku dalam bersimpuh kepada Tuhan Robbul'alamiin...
Di kala menjelang sore, Senja itu jadi saksi kita untuk saling menyayangi karena Tuhan Penguasa Alam.
Indahnya alam sekitar menghiasi keindahan roman hati.
rindu kangen jadi satu selalu, dan selamanya.
Di kala malam tiba menghampiriku, sulit mata lahir ini terpejam.
Karena di mata hatiku masih terkontaminasi senyum manjamu.
       
Aku memang tidak mencintai dirimu,  tapi aku selalu menyayangi dikau wahai sayangku.
Aku memang benci kamu di saat kau jauh dari lahir ragaku.
Tapi jiwa ini selalu menyentuh jiwamu dalam kejauhan.
Dan ku selalu berduka di saat kita bertemu dan harus berpisah.
Air mata kebahagiaan menghiasi pipimu saat saat terakhir kita haruslah berpisah.
Itulah saat terakhir kumelihatmu jatuhkan air mata karena menanggung rindu, walau rindu itu tak direstui.

Kini tinggal dirimu dalam kesendirian tanpa canda tawa bersama.
Kini tinggal kenangan saja.
Lupakan aku dalam kesenangan tapi ingatlah aku selalu dalam kesedihan.
Aku kan melupakan dirimu tapi doaku di setiap munajat aku alunkan buatmu.
Bencilah aku bila aku dalam jalan sesat, tapi ikutlan aku dalam jalan yang lurus menuju Ridho Ilahi.
 
Semoga benci dan rindu menjadi satu dalam doa yang tak terlupakan untuk ikrar kita menyayangi di dunia dan akherat.

Maafkan diriku, arena aku bukan pujangga cinta.
Tapi aku seorang insan yang berusaha ikhlas menyayangimu selalu, tapi bukan mencintai dirimu.

Aku Na Rafsa mu yang masih merindu...