Monday, 8 June 2020

Tips Menulis Cerpen

SERI PERTAMA

Ada begitu banyak poin yang ingin kita bahas bersama-sama. Mari kita mulai dari langkah pertama ketika akan menulis.

IDE CERITA    

Kalian pernah tidak, merasa heran dengan ide orang lain, yang tak ada habis-habisnya, dan beda dari yang lain?

Misalnya nih. Kalian lagi ikut tantangan menulis, dengan pelbagai tema berbeda setiap harinya. Kemudian kalian merasa sudah pede dengan ide dan pengembangan cerita yang kalian pilih. Kalian tulis, setor, beres.

Ketika membaca cerita orang lain, kalian langsung merasa shock. Kenapa orang lain bisa kepikiran ke sana yaa??

Pernah?? Pernah??

Ga usah malu sih, ngangguk mah ngangguk aja.

DARI MANA SIH DATANGNYA IDE?

Dari mana-mana kakaaaa … mari kita buat daftarnya:

1. Pengalaman pribadi

2. Pengalaman orang lain

3. Sepotong kisah dari film yang pernah ditonton

4. Sekelumit adegan dari novel/buku yang pernah dibaca

5. Percakapan yang pernah kita dengar

6. Lingkungan sekitar

7. Benda-benda yang kita lihat

8. Karakter orang-orang yang kita kenal

9. Status orang di medsos

10. …

Daftarnya bisa sangat panjang, tergantung sejauh mana kita bisa mengembangkan ide.

Salah satu cara paling efektif untuk melakukannya adalah:

BUATLAH MIND-MAPPING

Contoh:

Tema : DARKNESS (diambil dari tema tanggal 13 Juni)

Saat kalian membaca tema di atas, apa yang paling umum orang pikirkan tentang “darkness/kegelapan”? 

Cerita horror. Pasti.

Mungkin kalian akan menulis tentang tersesat di hutan tengah malam kemudian ketemu makhluk jadi-jadian. Atau kalian akan menulis tentang kondisi listrik mati, kemudian tiba-tiba ada yang mencolek bahu kalian dari belakang, atau yang lainnya. Pokoknya horror.

Tapi coba kembangkan ke ide yang lain. Usahakan berpikir secara “out of the box” atau berpikir dengan cara yang tidak biasa. 

Misalnya.

FIKSI

1. Bercerita dari sudut pandang orang dengan disabilitas tuna netra. Dunia adalah kegelapan baginya. 

2. Seseorang yang sedang depresi dan putus asa. Hidup adalah juga kegelapan atau jalan buntu baginya.

3. Seseorang yang anti sosial. Baginya, kegelapan itu tidak menakutkan, melainkan nyaman. Untuknya, berinteraksi dengan orang lain itu yang lebih menakutkan.

4. Kehidupan seorang psikopat yang memiliki ruang bawah tanah yang gelap, tempat ia menyekap para korbannya.

5. Sudut pandang binatang yang hidup di tempat gelap. Misalnya, kelelawar.

6. Bayangkan jika matahari berhenti bersinar, dan dunia bekerja dalam kegelapan. Semua orang bekerja dan bersekolah dalam gelap.

7. Bayangkan seseorang yang terbangun dalam kondisi terkubur di dalam tanah, padahal ia belum mati. Sekelilingnya gelap (terinspirasi dari film Buried).

8. Bayangkan kehidupan seorang penggali kubur yang suatu hari terperangkap dalam lubang galian yang ia buat sendiri.

Dan seterusnya.

NONFIKSI

1. Berceritalah mengenai abad kegelapan yang pernah terjadi di Eropa pada zaman dulu.

2. Mengapa rata-rata orang takut dengan gelap?

3. Tips mengajarkan anak supaya tidak takut gelap (ini biasa sih)

4. Mengapa bisa ada gelap? Mengapa tidak terang saja? Ini filosofis sekali. Tapi menarik.

5.  Mengapa kegelapan selalu diasosiasikan dengan kejahatan? 

Dan seterusnya.

Jika perlu, buatlah daftar ide sepanjang-panjangnya. Kuras otak kalian untuk mengeluarkan banyak ide. Ketika selesai, baca ulang dan posisikan sebagai pembaca. Kira-kira, ide mana yang paling menarik, dari puluhan atau bahkan ratusan ide yang sudah kalian tulis? Mana ide yang kira-kira nendang, dan beda dari yang lain? Kalau perlu, ide yang sangat liar.

Bagaimana kalau sudah berusaha membuat mind-mapping, tapi ide masih mentok juga?

Hmm … berarti kalian kurang ASUPAN.

Untuk bisa menulis, kita butuh amunisi. Apa itu? Ya dengan membaca.

Para penulis andal, biasanya adalah pembaca yang rakus. Penulis yang banyak membaca, kualitas tulisannya pasti akan berbeda dengan yang sedikit membaca, apalagi yang tidak membaca sama sekali. Saya ketika membaca sebuah tulisan, biasanya akan langsung tahu berapa banyak si penulis membaca buku. Sebab, penulis yang banyak baca, biasanya akan menghasilkan tulisan yang lebih jernih, bermutu dan bergizi.

Basi deh kalo sudah denger, penulis yang ingin bisa nulis tapi males membaca.

Heloooowwww.

EPILOG – BERGANTI JUBAH

Nah, untuk menutup tulisan seri pertama ini, saya akan membahas soal ‘berganti jubah’.

Istilah ini saya dapatkan dari salah satu pelatihan menulis yang pernah saya ikuti

Ada dua macam JUBAH yang harus kita kenakan.

1. JUBAH PENULIS

Ketika sedang ‘mengenakan’ jubah yang ini, tugas kalian adalah MENULIS. Menyambungkan kata, menenun makna. Asal kata “text” atau teks adalah dari Bahasa Latin (textuse). Artinya MENENUN. Maka tugas kalian adalah menenun, menyatukan, memilah dan mengisi semua kata yang akan kalian jalin menjadi cerita utuh.

2. JUBAH PEMBACA

Kalian harus mengenakan jubah ini saat selesai menulis. Berpura-puralah sebagai pembaca, orang yang sama sekali tidak mengenal kalian. Baca kembali tulisan yang tadi sudah dibuat. Periksa tanda bacanya; apakah enak dibaca, apakah bikin ngos-ngosan karena kalimatnya panjang-panjang, dan jarang pakai koma?

Periksa juga ejaannya, jangan-jangan saking kepedeannya, kita, tanpa sadar membuat banyak TYPO atau salah ketik. Pembaca kemudian mengerenyit ketika membaca tulisan kita. Sudah ceritanya ga enakeun, banyak salah ketik lagi.

Beres tanda baca dan ejaan, nilailah kisah yang kalian tulis. Bagus tidak? Dari skala 1-10, kalian akan kasih skor berapa?

Sebelum tulisan kalian diobrak-abrik oleh para kritikus, lebih baik kalian sendiri yang mengacak-ngacaknya. Ngerti kan, maksudnya?

Intinya, jadi penulis tidak boleh malas. Banyaklah membaca, dan mencatat. Amati tulisan-tulisan orang lain yang menurut kalian bagus. Baca kembali novel-novel yang kalian sukai. Tiru gaya penulisan penulisnya.

Emang boleh meniru?

Kenapa tidak? Yang tidak boleh itu menjiplak. Meniru dan menjiplak beda ya kakak.

Tulisannya sudah terlalu panjang ini. Saya cukupkan sampai di sini dulu untuk seri pertama. Kita lanjut lagi di seri selanjutnya ya. 

Mari berdiskusi.



Sumber: Grup Literasi FB Nulis Aja Dulu, pada event 30 Hari Menulis 2020.

No comments:

Post a Comment