Saturday, 25 April 2020

Tidak Selalu Kamu



Beberapa pesan centang dua masih berwarna abu, tapi kau selalu menenangkan dirimu sendiri dengan mengatakan "dia sedang sibuk, nanti jika sudah senggang pasti dibaca dan dibalasnya" sampai pada akhirnya kamu menunggu seharian dan pesan itu tetap tak terbalas meskipun sudah centang biru.

Beberapa telepon tak dijawabnya, dan kamu selalu berpikir bahwa dia sedang tak menggenggam teleponnya, dia tak mendengar ponselnya berdering, "dia pasti akan melelpon balik nanti jika sudah punya waktu luang" pikirmu membesarkan harapan, tapi ponselmu tak pernah berdering, hingga kamu lupa kapan terakhir kali kau mendengarkannya tertawa.

Kamu masih selalu mencoba memberi dan bertanya kabar, tetapi hanya berakhir pada jawaban-jawaban sederhana semacam "baik", "ya" atau hanya sebuah emoticon senyum saja--dan lebih sering tidak dibalasnya.

Kamu masih menganggap dia istimewa, masih berharap segala sesuatu akan baik kembali. Meski sebenarnya kamu merasakan perubahan, tapi tak mau mengakui, kamu menerima perbedaan tapi mengabaikan. Kamu takut jika kamu akan patah hati dan terpuruk sebab kehilangan dia--kehilangan yang tak pernah siap untuk kamu hadapi.

Kamu semakin mahir menipu perasaanmu sendiri dan melambungan angan-angan, kamu pikir dia akan melihat kegigihanmu, perjuanganmu dan pengorbanan yang kamu lakukan untuk mendapat perhatiannya.

Tetapi, ternyata kau benar, Dia sedang sibuk; sibuk memberi perhatian pada seseorang lain yang membuat dadanya berdebar. Sekali lagi kamu benar, dia sedang tak memiliki waktu luang, sebab waktunya telah terpusat untuk seseorang lain yang membuatnya mengabaikanmu.

Tidakkah kau mengerti, tidak selalu kamu yang harus patah dan dipatahkan, tidak selalu kamu yang harus mengalah dan menahan perasaan, jika saja kau mau mengakui--kau telah kalah, bahkan sebelum perjuanganmu dimulai.
Dia tidak pernah melihatmu, dia tidak memberimu harapan, kamu yang gigih menolak kenyataan, tidak lelahkah? Mau sampai kapan?

Apa begitu sulit untuk memutuskan pergi?
Kamu tidak kehilangannya, kamu bahkan tak pernah memilikinya sejak semula.

Jakarta, 25 April 2020

No comments:

Post a Comment