Saturday, 13 June 2020

Sudut pandang Aku (1), Kamu (2), dan Dia (3) dalam Bercerita


Sudut pandang (atau lebih sering kita tahu Point Of View (POV)) adalah posisi penulis dalam sebuah cerita atau cara penulis memandang dan menceritakan kisahnya. Ada tiga sudut pandang dalam bercerita yang akan saya jelaskan bersama tipsnya. Check it out!

1. Sudut Pandang Orang Pertama (Aku)

Dalam sudut pandang ini, kita sebagai penulis memposisikan diri sebagai tokoh utama. Kita melihat, mendengar, dan merasakan apa yang terjadi, seolah-olah dengan bagian tubuh sendiri. Semua yang ada dalam cerita adalah apa yang kita lalui  dalam cerita.

Kekuatan sudut pandang ini adalah kedalaman emosi. Kita bisa menjelajah perasaan pembaca dengan mengaduk-ngaduk perasaan si aku. Seiring kekuatan kata-kata bisa mengekspresikan gejolak batin tokoh, maka di situlah keistimewaan sudut pandang ini bisa dimaksimalkan.

Tips untuk menggunakan sudut pandang ini : olah perasaan tokoh aku untuk diserap pembaca. Sudut pandang orang pertama ini seperti air yang mengalir. Jika dapat mengolahnya dengan baik, isi cerita akan menghanyutkan pembacanya.

Jika boleh mengibaratkan, sudut pandang orang pertama adalah seorang introvet yang terkungkung dalam perasaannya sendiri.

Kekurangan dari sudut pandang ini adalah keterbatasan kita dalam mengetahui isi pikiran tokoh lain dan apa yang berlangsung tanpa ada tokoh aku di dalamnya. Kebocoran sudut pandang ini seringkali terjadi saat kita sebagai penulis bisa mengetahui, apa yang terjadi tidak di sekitar kita. Jadi, hati-hati, ya.

Contoh cerita yang menggunakan sudut pandang orang pertama :

Perempuan yang Berusaha Tersenyum

Aku mematung di depan cermin. Menatap lekat semua yang ada di sana. Mata panda yang jauh dari kata memesona, bibir tipis pucat, juga hidung yang tidak proporsional. Sungguh, lelaki mana yang akan bertahan dengan perempuan macam aku? Mereka hanya memedulikan kehangatan sesaat, sebelum akhirnya menghilang. Cuih! Dasar bangs*t!

2. Sudut Pandang Orang Pertama Pelaku Sampingan (Kamu)

Sudut pandang yang sangat jarang dipakai dalam menulis, sebab kesulitannya. Jika diibaratkan, sudut pandang orang kedua adalah seorang seniman yang melukis seseorang di depannya. Semakin jelas kita menggores ekspresi orang tersebut, semakin bagus tulisan kita menggunakan sudut pandang orang kedua.

Sudut pandang orang kedua adalah ambivert yang selalu melihat situasi di sekitar dengan mata dan hatinya.

Contoh cerita yang menggunakan sudut pandang orang kedua :

Seseorang yang tak Ingin Mengganti Kesedihan dan Kenangannya

Kesedihan adalah baju yang sering kali kamu gunakan sebelum tidur. Baju yang memeluk erat tubuhmu, saat sepi berkunjung. Tak lupa, kamu juga mengenakan kenangan yang berbentuk syal, untuk menjauhkan setiap gigil malam yang datang.

3) Sudut Pandang Orang Ketiga (Dia)

Pernah melihat pementasan wayang? Dalam menulis sudut pandang orang ketiga, kita adalah dalangnya. Dalam sudut pandang ini, kita bisa menjadi serba tahu. Kita bisa mengetahui apa yang dilakukan oleh beberapa tokoh, meskipun sang tokoh utama tidak berada di tempat itu. Kita juga bisa menceritakan detail apa yang sedang tokoh-tokoh itu lakukan.

Hampir semua genre dapat dieksekusi dengan sudut pandang orang ketiga, tetapi jangan sampai kita mengetahui apa yang dipikirkan dalam kepala tokoh, kecuali itu dimasukan dalam dialog. Sebab dalam narasi, dikhawatirkan kita malah mencampurnya dengan sudut pandang orang pertama.

Sudut pandang orang ketiga adalah ekstrovet yang bebas mengekspresikan dirinya dan menyukai sosialisasi.

Contoh cerita yang menggunakan sudut pandang orang ketiga:

Kupu-Kupu Kata-Kata

; Ketika puisi menjadi jembatan perasaan

Ardi tengah termenung, saat seekor kupu-kupu putih mengitarinya. Berputar-putar, lalu hinggap di kuntum mawar yang ditanam ibunya di dalam pot. Beberapa menit terbang kembali, sebelum akhirnya tergeletak begitu saja di atas meja.

Itulah tips dari saya. Semoga bisa bermanfaat.

Jombang, 13/06/2020 

No comments:

Post a Comment