Thursday, 27 January 2022

Ulasan Buku: Buya Hamka, Sebuah Novel Biografi

RESENSI BUKU

Oleh: Anik Zahra



Judul Buku : Buya Hamka Sebuah Novel Biografi

Penulis : Haidar Musyafa

Penerbit : Imania

Kota Penerbit : Pondok Cabe Tangerang Selatan

ISBN : 978-602-7926-39-4

Cetakan Ke : I

Tahun Cetakan : 2018

Jumlah Halaman Buku : 830 Halaman


Abdul Malik di lahirkan di Tanah Sirah, salah satu kampung di Nagari Sungai Batang, Luhak Agam, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Kampung Tanah Sirah merupakan tempat yang sangat indah, karena panorama alamnya yang menawan. Kampung itu terletak di pinggir Danau Maninjau. Di salah satu tepi danau itu, berdiri rumah sederhana berukuran 17 x 9 meter yang beratapkan ijuk bergonjong empat menghadap Danau Maninjau.

Malik, nama panggilannya terlahir dari keluarga sangat sederhana, dari keturunan keluarga berstatus sosial tinggi di lingkungan masyarakat Minangkabau. Abdul Karim bin Amrullah nama ayahnya yang berasal dari keturunan keluarga ulama. Siti Shafiyah Tanjung binti Haji Zakaria nama ibunya yang berasal dari keturunan bangsawan. Oleh orang-orang kampung, beliau diberi gelar Bagindo Nan Batuah.

Abdul Malik atau lebih dikenal dengan Buya Hamka Sosok seorang Ulama, Politisi, Budayawan, Sastrawan, dan Jurnalis menyatu dalam diri Abdul Malik atau lebih dikenal dengan Buya Hamka. Buya Hamka adalah penulis tafsir Al-Azhar, beliau juga pendiri dan ketua Majelis Ulama Indonesia (1975-1980) Pertama yang ditunjuk langsung oleh Prof. Dr. Mukti Ali menteri agama Republik Indonesia kala itu dengan tujuan yang sangat mulia dan strategis.

Kisah yang banyak dikenang adalah ketika menunjukkan toleransi persahabatan dengan KH. Idham Khalid ketua PBNU kala itu. Ketika keduanya dalam satu perjalanan dakwah dan tiba waktu salat, mereka bergantian menjadi imam. Saat salat subuh, misalnya jika Buya Hamka menjadi imam salat, maka beliau menunaikan salat subuh menggunakan doa qunut dengan tujuan menghormati KH. Idham Khalid yang NU, begitu pun sebaliknya ketika KH. Idham Khalid menjadi imam salat subuh, beliau tidak menggunakan doa qunut karena menghormati Buya Hamka yang Muhammadiyah.

Kata-kata Bung Karno yang terngiang di telinga Hamka sebelum meninggalkan Bung Karno meninggalkan Bengkulu karena Bung Karno berstatus sebagai tahanan politik Hindia Belanda.

“Saya juga tidak akan pernah putus berdoa, semoga Adinda Hamka menjadi suluh penerang bagi rakyat negeri ini. Baik melalui buku-buku yang Adinda tulis maupun dengan ceramah-ceramah agama yang Adind berkan kepada masyarakat.”

Sebait ungkapan diatas itu sebagai doa dan harapan agar memanfaatkan seluruh ilmu untuk kepentingan rakyat Indonesia.

Ada juga kisah perbedaan Buya dengan Soekarno yang menangkap dan menjebloskan beliau ke penjara, namun ketika Soekarno wafat 1970, Presiden Soeharto meminta Buya Hamka mengimami salat jenazahnya. Sepenting apa Buya Hamka dimata Soekarno sehingga Soeharto harus seperti itu. Karena Buya Hamka membela dan memperjuangkan kepentingan umat Islam dari pada mendukung, melindungi kepentingan nasakom.

Pada Juli 1981 beliau mengundurkan diri dari MUI. Sebagai gantinya, kegiatan yang dijalankan mengurus dakwah di Masjid Agung Al-Azhar Jakarta. Disaat mengundurkan diri dari kepemimpinan MUI beliau berumur 73 tahun 5 bulan, usia yang semakin tua, kekuatan berkurang namun semangat juangnya tetap berkobar. Pada bulan yang sama Hamka hari jum’at 24 Juli 1981, bertepatan dengan 14 Ramadhan 1402 H, pukul 10.41.08 WIB menghadap Allah SWT.

Masih banyak lagi kisah-kisah heroik perjuangan Hamka dalam buku ini yang bisa dijadikan pelajaran dengan harapan anak muda termotivasi untuk mengambil bagian dalam membangun bangsa ini, meneruskan perjuangan para pendiri bangsa, serta menjadikan Indonesia sebagai negara yang maju dan dapat berdiri di atas kaki sendiri dan teguh memegang prinsip serta taat dalam beragama.

Kesederhanaan, kecerdasan, ‘Alim menyatu dalam diri Hamka yang harus diteladani ditengah carut marutnya bangsa ini karena krisis keteladanan, buku novel biografi Buya Hamka ini layak di angkat kembali agar anak muda Indonesia tidak berkiblat ke drama korea, peradaban barat atau lebih cinta negeri orang lain dibanding mencintai negeri sendiri.

Kelebihan buku ini memiliki tata bahasa yang mudah dimengerti dan susunan alur cerita yang runut tentunya tidak asal karena sumber cerita dan data ditanyakan langsung dari berbagai tokoh dan keluarga Hamka. Kelemahan buku ini terlalu tebal, membuat pembacanya putus asa dalam menyelesaikan bacaannya. Alangkah baiknya jika buku setebal 830 halaman dipecah menjadi beberapa jilid dengan tujuan menjauhkan pembacanya dari kejenuhan.

Buku ini sangat direkomendasikan bagi anda para guru sejarah dan bagi anda yang cinta dengan sejarah bangsa ini sehingga memiliki cita-cita membawa harapan baru untuk memperbaiki bangsa dan negara ini menjadi lebih baik. []

No comments:

Post a Comment