Petang datang lagi, kali ini bukan tentang mengulang pergi. Seperti merah langit mengejek tawa yang sebelumnya sorai. Kali ini bukan tentang kepakkan pulang ingatan, yang mengulang-ulang seperti bianglala.
Ini hanya tentang sepasang sepatu yang masih sisakan pintu menuju diri. Menuju aku yang sedari pagi lupa menyapa, baikkah?
Melawan waktu agar tak ada pelik yang mencuri sedikit sunyi, porak-poranda lupa yang susah payah ku alihkan bersama gulir rotasi.
Sialnya, malam berhasil menyeret paksa, membuat ziarah akan sekali lagi air mata basahi pipi. Seperti kapal-kapal yang butuh mercusuar untuk menjadi peta temukan arah. Atau rasi karina yang memberi petunjuk untuk sesat ditengah gelap. Aku temukan diriku, sedang gigil memeluk lutut sembari menyumpal mulut. Isak penuhi detak.
Tuhan, aku hanya butuh dipeluk, biar kemelut aku saja yang iyakan, tetapi sisakan satu, satu saja peduli, satu saja angguk untuk pinta-pinta yang mengetuk pintu–Mu. Boleh ya? Kali ini saja.
[18:40, rotasi di Bumi yang ada aku]
Ini hanya tentang sepasang sepatu yang masih sisakan pintu menuju diri. Menuju aku yang sedari pagi lupa menyapa, baikkah?
Melawan waktu agar tak ada pelik yang mencuri sedikit sunyi, porak-poranda lupa yang susah payah ku alihkan bersama gulir rotasi.
Sialnya, malam berhasil menyeret paksa, membuat ziarah akan sekali lagi air mata basahi pipi. Seperti kapal-kapal yang butuh mercusuar untuk menjadi peta temukan arah. Atau rasi karina yang memberi petunjuk untuk sesat ditengah gelap. Aku temukan diriku, sedang gigil memeluk lutut sembari menyumpal mulut. Isak penuhi detak.
Tuhan, aku hanya butuh dipeluk, biar kemelut aku saja yang iyakan, tetapi sisakan satu, satu saja peduli, satu saja angguk untuk pinta-pinta yang mengetuk pintu–Mu. Boleh ya? Kali ini saja.
[18:40, rotasi di Bumi yang ada aku]

No comments:
Post a Comment