Jadi setelah hari ini, aku harus menyajikanmu apa?
Semangkuk tawa dari pernah yang harusnya kusyukuri, atau secangkir doa yang memintamu untuk tetap ada di tengah riuh derap sepatu yang menjauh?
Setelah hari ini aku harus bersikap seperti apa? Mengumpulkan satu-dua hal yang untuk kurindukan nanti, atau berhenti kemudian melipat lututku sendiri hingga seguk selesai tumpah dari pipi.
Aku harus seperti apa? Menghadapi mau semesta yang berkata cukup padahal harap belum genap.
Atau aku harus berkata apa, pada angguk sebelum temu yang sudah iyakan jarak.
Tak ada, aku tak punya apa-apa.
Sampai nanti, sampai kita menjadi bab-bab sebagai dongeng bahwa pernah. Aku tak akan menganggul apa-apa selain waktu yang menjadikannya pudar setelah lelah berpendar.
Sedari awal, sedari detik belum bertemu detak, masa punya titik. Entah kita sampai, entah kita justru tersesat. Hanya saja biarkan kita hidup sebagai apapun. Meski itu kata, dan inginku adalah denyut pada dada.
23:38 waktu Bumi di kotaku.
Semangkuk tawa dari pernah yang harusnya kusyukuri, atau secangkir doa yang memintamu untuk tetap ada di tengah riuh derap sepatu yang menjauh?
Setelah hari ini aku harus bersikap seperti apa? Mengumpulkan satu-dua hal yang untuk kurindukan nanti, atau berhenti kemudian melipat lututku sendiri hingga seguk selesai tumpah dari pipi.
Aku harus seperti apa? Menghadapi mau semesta yang berkata cukup padahal harap belum genap.
Atau aku harus berkata apa, pada angguk sebelum temu yang sudah iyakan jarak.
Tak ada, aku tak punya apa-apa.
Sampai nanti, sampai kita menjadi bab-bab sebagai dongeng bahwa pernah. Aku tak akan menganggul apa-apa selain waktu yang menjadikannya pudar setelah lelah berpendar.
Sedari awal, sedari detik belum bertemu detak, masa punya titik. Entah kita sampai, entah kita justru tersesat. Hanya saja biarkan kita hidup sebagai apapun. Meski itu kata, dan inginku adalah denyut pada dada.
23:38 waktu Bumi di kotaku.
12-12-2020

No comments:
Post a Comment