Maulana Rumi pernah berkata: "Setiap yang dicintai pasti cantik dan tidak sebaliknya. Tidak setiap yang cantik pasti dicintai". Kecantikan tak bisa dipisahkan dari rasa cinta. Rasa cinta melahirkan kecantikan.
Pada masa Qais (Majnun) dan Laila, banyak perempuan yang lebih cantik dari Laila, tapi mereka bukan kekasih Qais; Qais tidak jatuh cinta pada mereka. Cinta Qais hanya pada Laila, bahkan cinta gila. Melihat gilanya cinta Qais pada Laila, orang-orang lantas berkata padanya, "Banyak perempuan yang lebih cantik dari Laila. Kami akan tawarkan mereka untukmu."
Qais menjawab, "Begini..,, Aku mencintai Laila bukan pada citranya, karena Laila bukan sekedar citra (image). Citra Laila bagiku bagaikan cangkir, dan dari cangkir itu aku minum minuman yang ada. Jadi aku merindukan minuman minuman yang aku minum dari cangkir itu. Mata kalian hanya bisa melihat bentuk cangkir saja. Kalian tidak punya pengetahuan tentang minuman itu. Jika di tanganku ada cangkir emas berhias intan permata, tapi isinya cuka, bukan minuman yang aku inginkan, apa gunanya bagiku? Cangkir kuno yang retak, tapi di dalamnya ada minuman yang aku inginkan, tentu lebih baik dibanding ratusan cangkir yang indah-indah."
Manusia harus memahami makna cinta dan rindu agar ia mampu memahami minuman dan membedakannya dari cangkir, karena yang disasar oleh cinta dan rindu adalah minuman, bukan cangkirnya. Persis seperti perbedaan antara orang yang lapar karena tidak makan apapun selama beberapa hari dan orang yang lapar tapi setiap hari is makan tiga kali. Keduanya sama-sama merasakan lapar dan sama-sama membutuhkan makanan.
Orang yang setiap hari makan tiga kali melihat makanan hanya sebentuk makanan, sedang orang yang kelaparan selama beberapa hari melihat makanan sebagai penyambung nyawa. Ia melihat ada ruh dalam makanan itu. Makanan sama dengan cangkir dan efek lezatnya sama dengan minuman dalam cangkir. Minuman itu tidak mungkin dapat dilihat kecuali dengan perasaan cinta dan rindu. Cangkir bisa hancur berkeping-keping, tapi cinta dan rindu pada minuman akan bertahan selamanya.
Selamat malam, Cinta...
#missyou from the moon and back
#13112016, 23.23 WIB
Pada masa Qais (Majnun) dan Laila, banyak perempuan yang lebih cantik dari Laila, tapi mereka bukan kekasih Qais; Qais tidak jatuh cinta pada mereka. Cinta Qais hanya pada Laila, bahkan cinta gila. Melihat gilanya cinta Qais pada Laila, orang-orang lantas berkata padanya, "Banyak perempuan yang lebih cantik dari Laila. Kami akan tawarkan mereka untukmu."
Qais menjawab, "Begini..,, Aku mencintai Laila bukan pada citranya, karena Laila bukan sekedar citra (image). Citra Laila bagiku bagaikan cangkir, dan dari cangkir itu aku minum minuman yang ada. Jadi aku merindukan minuman minuman yang aku minum dari cangkir itu. Mata kalian hanya bisa melihat bentuk cangkir saja. Kalian tidak punya pengetahuan tentang minuman itu. Jika di tanganku ada cangkir emas berhias intan permata, tapi isinya cuka, bukan minuman yang aku inginkan, apa gunanya bagiku? Cangkir kuno yang retak, tapi di dalamnya ada minuman yang aku inginkan, tentu lebih baik dibanding ratusan cangkir yang indah-indah."
Manusia harus memahami makna cinta dan rindu agar ia mampu memahami minuman dan membedakannya dari cangkir, karena yang disasar oleh cinta dan rindu adalah minuman, bukan cangkirnya. Persis seperti perbedaan antara orang yang lapar karena tidak makan apapun selama beberapa hari dan orang yang lapar tapi setiap hari is makan tiga kali. Keduanya sama-sama merasakan lapar dan sama-sama membutuhkan makanan.
Orang yang setiap hari makan tiga kali melihat makanan hanya sebentuk makanan, sedang orang yang kelaparan selama beberapa hari melihat makanan sebagai penyambung nyawa. Ia melihat ada ruh dalam makanan itu. Makanan sama dengan cangkir dan efek lezatnya sama dengan minuman dalam cangkir. Minuman itu tidak mungkin dapat dilihat kecuali dengan perasaan cinta dan rindu. Cangkir bisa hancur berkeping-keping, tapi cinta dan rindu pada minuman akan bertahan selamanya.
Selamat malam, Cinta...
#missyou from the moon and back
#13112016, 23.23 WIB
No comments:
Post a Comment